Umroh Rame-rame
Umroh barusan ini agak beda, biasanya saya cuma ber-4 kali ini kami ber-8. Papa, mama, adik ipar, 2 keponakan, 1 adik yang paling kecil dan anak sulung saya. Laki-lakinya cuman 2, jadi bisa dibayangkan ‘rame’nya. Berangkat hari Senin tanggal 14, balik selasa depannya. Kebetulan umroh kali ini istimewa, karena direktur biro perjalanan Fath Indah, bapak Sutomo juga berkenan mengantar kami.
Dari Bandara Juanda, kami terbang dengan Garuda menuju Cengkareng untuk transit. Di Cengkareng kami bertemu dengan peserta umroh lainnya. Total jendral rombongan kami berjumlah 18 orang. Ada keluarga Dr. Farouk ber-5, ada Bapak Tjuk Sukiadi bersama Ibu, dan ada Bapak & Ibu dari Lumajang (yang sebenanya ikut kloter sebelumnya, tapi karena ada kesalahan teknis jadi ikut kloter kami). Ada sedikit masalah di sini, Kartu Kuning utk vaksin sebagai syarat wajib bepergian umroh (juga haji) belum kami dapatkan, akhirnya di Cengkareng petugas umrohnya baru mengurusnya secara kilat di sana. Akibatnya kami boarding paling akhir dan sedikit lari-lari ke pintu pesawat.
Setelah 9 jam mengudara, sampai di Bandara King Abdul Azis sudah agak malam. Kami dibawa ke Holyday-Inn, Jeddah untuk transit. Besok sorenya baru kami diantar ke Mekkah, untuk masuk kamar Hotel Grand Zam Zam Tower yang masih relatif baru ini kami harus ngantri 2 jam duduk-duduk di lobbynya. ![]()
Setelah masalah kamar beres, kami baru menunaikan ibadah umroh yang pertama. Alhamdulillah, umroh dapat saya selesaikan dengan lancar. Papa, mama dan anak-anak karena sudah tidak terlalu kuat untuk tawaf dan sa’i mereka menyewa kursi roda. O ya, mutawwif kita masih muda belia, namanya Tahir Nasution, dipanggil ama anak-anak, Om Tion. Orangnya sabar dan telaten dalam membimbing kita.
Hari-hari berikutnya kami gunakan untuk full beribadah, berziarah, dan sight seeing sekitar Mekkah (diusia saya segini ini saya sudah ngga’ mood lagi untuk berbelanja, niatnya juga untuk ibadah aja sih). Dibandingkan pada umroh terakhir saya tahun 2002, Mekkah saat ini sudah mulai terlihat cantik dan masih terus ‘bersolek’. Saat ini sedang dilakukan perobohan hotel-hotel di sekitar Masjidil Haram yang nantinya akan di tata ulang agar lebih cantik lagi. Hotel tempat kami menginappun masih dalam proses pembangunan. Grand Zam Zam saat ini menjadi hotel yang termegah dan tertinggi di Mekkah. Dari ground sampai 4 lantai dipakai untuk Mall. 11 lantai ke atasnya untuk perkantoran, baru setelah itu untuk hotelnya sendiri 35 lantai. Kebetulan saya dapat kamar di lantai 30, jadi bisa lihat pemandangan kota Mekkah yang berbukit-bukit padas itu. Untuk saat ini memang di Mekkah jadi agak kurang nyaman, selain bising dengan mesin-mesin yang digunakan untuk membangun, debu-debu reruntuhan bangunan bertebaran disana-sini (bahkan sering masuk ke area Baitullah), juga sering terjadi ‘perebutan’ kamar hotel akibat hotel banyak diruntuhkan sehingga kekurangan kamar. Diperkirakan kondisi agak nyaman setelah 2 tahun ke depan.
Umroh kedua kami lakukan siang hari setelah ziarah ke Jabal Nur, Padang Arafah, Mina (sedang dalam renovasi tempat lempar jumroh menjadi 4 tingkat), ambil miqot di Bir Ali baru melaksanakan umroh. Tidak semua yang ikut, untuk orang tua dan anak-anak mereka lebih memilih istirahat di hotel. Memang di sana sudah mulai terasa panas walaupun belum memasuki musim panas. Tapi dengan keyakinan dan pemahaman yang dalam, rasanya ibadah tersebut belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjuangan Nabi-nabi dan orang-orang saleh di kala itu.
Setelah 4 hari di Mekkah, kami berangkat dengan bis menuju Madinah. Perjalanan 6 jam tersebut kami lalui dengan lancar dan tiba di Movenpick sudah Isya’. Setelah dinner kami masuk kamar masing-masing. Besoknya acara free, saya gunakan untuk ziarah ke makam Rasulullah SAW yang nota bene ada di dalam masjid Nabawi dan berlama-lama di Raudha (taman surga), yaitu salah satu tempat mustajab untuk berdo’a yang terletak antara makam Rasul dan mimbar. Untuk menandai tempat tersebut, diberi alas karpet hijau. Ziarah lainnya di Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Jabal Uhud, Pabrik Al-Qur’an (didirikan Raja Fahd almarhum) dan kebun korma. Di kebun korma rombongan bisa berbelanja untuk oleh-oleh.
Setelah 3 hari di Madinah kami kembali ke Jeddah dengan bis, sempat mampir di Balad untuk shopping lagi (buat yang gemar shopping pasti asyik nih!). Saya sempat ma’em Bakso mang Udin yang sudah ke sohor buat orang Indonesia di sana. Sempat juga ke Toko Amir Parfume, nganter mama belanja minyak wangi merk-merk terkenal dengan harga miring. Karena keasyikan belanja, waktu menuju Bandara King Abdul Azis jadi kebut-kebutan, sampai di sana, boarding untuk bagasi udah ditutup, tapi untungnya pihak bandara masih memberikan toleransi, akhirnya koper dan barang bawaan kami masih bisa masuk. Sekitar jam 21 waktu setempat kami dengan penerbangan Garuda Excecutive Class lepas landas menuju tanah air. Di dalam hati saya berkata,”Kapan bisa umroh lagi ya?”
Popularity: 3% [?]













July 2nd, 2008 at 7:42 am
Yang ini juga posting susulan
May 3rd, 2010 at 9:13 am
[...] April sepertinya jadi titik awal banyak perubahan dalam kehidupan saya. Di mulai dengan Umroh rame-rame yang berangkat akhir Maret lalu. Beda dengan 2 tahun sebelumnya, kali ini perjalanan ke tanah [...]