Go To Singapore
Sudah sepekan saya ditinggal nyonyah. Dalam rangka birrul waliddain (berbakti pada orang tua) nyonyah bersama si kecil yang masih 4 bulan mengantar ayah yang divonis lymphoma oleh dokter. Bersama ibu, kakak dan adik mereka berangkat ke Singapore untuk melakukan check up ulang di Gleneagles Hospital. Mereka dijadwalkan pulang awal Maret ini, saya dan anak-anak sedianya akan menjemput di Surabaya.
Sore tanggal 29 Feb 2008, ketika kami sudah meluncur untuk ke Surabaya tiba-tiba nyonyah telpon dari Singapore kasih kabar kalau mereka tidak jadi pulang dan justru kitalah yang diminta nyusul ke sana karena ayah memutuskan untuk di kemoterapi di sana. Wah, malam itu juga kami, terutama saya ‘kalang kabut’ untuk mempersiapkan ke Singapore. Jam sudah menunjukkan pukul 19.30 sedangkan saya tidak ada pikiran untuk ke negeri jiran itu dalam waktu dekat.
Akhirnya, dengan kepasrahan dan usaha, saya balik ke rumah untuk packing baju seadanya bersama anak-anak. Saya segera menghubungi teman untuk minta bantuannya pesan tiket Value Air via internet. Celakanya, hari itu Speedy lagi error seharian, setelah cari-cari warnet yang masih bisa beroperasi (kebanyakan di Malang banyak yang pake speedy) akhirnya nemu warnet yang bisa dipake walaupun koneksinya super lemot. Sembari pesan tiket, saya call teman yang berbisnis valas untuk tuker USD dan SGD yang akan saya bawa ke Singapore, butuhnya lumayan banyak karena untuk biaya pengobatan. Atas bantuan teman tersebut akhirnya USD dan SGD saya dapatkan walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 23.30, kami segera menuju Surabaya. Untung saya berangkat dianter teman yang baik hati dan biasa melakukan perjalanan malam. Sampai di Surabaya jam 00.30 langsung bobok karena badan sudah capai banget.
Pagi, jam 05.30 kami siap-siap ke bandara Juanda, sebelumnya sempat nyari obat-obatan titipan ayah. Kami ber-4 (saya, anak 2 dan kakak ipar) segera boarding karena waktunya sudah mepet. Jam 7 lebih pesawat lepas landas. Sekitar 2 jam kami tiba di Changi, anak-anak saya yang baru pertama kali ke luar negeri mulai berceloteh kasi komentar apa-apa yang mereka lihat. Syukurlah perjalanannya lancar, kami segera naik taksi menuju Gleneagles. Sampai di sana kami dikerjain sama keluarga yang sudah datang sebelumnya. Dari balik pintu kaca hospital mereka ngagetin kami. Akhirnya, setelah puas berkangen-kangenan kami lunch dulu baru anter ayah untuk diperiksa lagi menjelang kemoterapi.
Esoknya kami lanjutkan kebersamaan ini (jadi bersebelas) untuk pergi jalan-jalan ke Jurong Bird Park, lewat Singapore Flyer, ke Merlion dan Lucky Plaza. Maunya seh kami cuma 3 hari di sana, tapi akhirnya berlanjut sampai 8 hari. Sebagian besar hari-hari kami lalui di sana untuk menemani ayah di rumah sakit. Jadi, mondar mandir dari rumah yang kami sewa, di jalan kayu manis ke gleneagles yang cuma butuh waktu 5 menit. Walaupun di rumah sakit, tapi kami merasa seperti di hotel berbintang karena suasana lobby-nya bak hotel, ada ‘kantin’ yang menyediakan berbagai macam makanan, ada toko kelontongnya, ada toko bakerynya dan corner untuk berinternet ria. Belum lagi servis dari para dokter dan staffnya yang ramah-ramah, serasa di rumah sendiri!
Karena efek kemoterapi ayah yang luar biasa, bikin rambut rontok, perut mual, kembung, lidah terasa pahit, persendian lemas, akhirnya ayah memperpanjang stay nya di Singapore, namun karena anak-anak harus sekolah (udah bolos 8 hari) akhirnya saya pulang duluan bersama mereka.
Ah ternyata negara sekecil itu mampu menyedot manusia untuk datang ke sana, baik untuk berwisata, berbisnis maupun untuk melakukan pengobatan. Seandainya di sini seperti itu..










July 1st, 2008 at 11:21 am
postingan susulan nih!
December 10th, 2008 at 10:16 pm
[...] Malam ini saya benar-benar kesepian Biasanya tawa canda anak-anak terdengar cukup nyaring ditelinga, terutama menjelang mereka berangkat tidur. Tapi sore ini, suara-suara itu tidak tertangkap telinga saya. Makan sore hanya bertiga. Saya, Si sulung dan si tengah yang masih SD. Makanpun kurang bersemangat. Serasa ada yang kurang lengkap sore ini. Ya, memang kurang lengkap sih, karena nyonyah dan si kecil sedang tidak di rumah, tepatnya sedang ‘bertugas’ mengantar ayahanda tercinta untuk check-up ke Singapura. [...]